Posted by: mysecreet | October 12, 2009

Pengertian dan Fungsi Telematika

ANALISIS FUNGSI KETERANGAN AHLI TELEMATIKA SEBAGAI ALAT BUKTI WAKTU PROSES PERADILAN PIDANA

 

PENGERTIAN TELEMATIKA

            Sebelum kita menganalisis fungsi dari telematika kita sebelumnya harus mengetahui pengertian telematika itu sendiri. Ilmu ini digunakan pada tahun 1978 oleh Simon Nora dan Alain Minc dalam bukunya L’informatisation de la Societe. Telematika merupakan adopsi dari bahasa Prancis yang sebenarnya adalah TELEMATIQUE yang kurang lebih dapat diartikan sebagai bertemunya sistem jaringan komunikasi dengan teknologi informasi. Sedangkan para praktisi mengatakan bahwa TELEMATICS merupakan perpaduan dari dua kata yaitu dari “TELECOMMUNICATION and INFORMATICS” yang merupakan perpaduan konsep Computing and Communication. Istilah telematika juga dikenal sebagai “the new hybrid technology” karena lahir dari perkembangan teknologi digital. Dalam wikipedia disebutkan bahwa Telematics juga sering disebut dengan ICT (Information and Communications Technology).  http://dgk.or.id/archives/2006/03/30/asal-mula-kata-telematika/

Maka dari bahan yang saya dapatkan disimpulkan bahwa telematika merupakan ilmu yang dikembangkan dari teknologi informasi. Dimana Teknologi Informasi adalah hasil rekayasa manusia terhadap proses penyampaian Informasi dari pengirim ke penerima sehingga:

  • lebih cepat
  • lebih luas sebarannya
  • lebih lama penyimpanannya

 

FUNGSI TELEMATIKA

Fungsi utama dan tugas utama Telematika dari hukum acara pidana adalah sebagai hukum formil agar mendapatkan kebenaran materiil, untuk mencapai kebenaran yang materiil tersebut hukum acara pidana dibantu dengan suatu metode pembuktian atau hukum pembuktian. Perkembangan teknologi pada saat ini memunculkan berbagai media komunikasi yang sangat cepat dalam memberikan berbagai informasi dalam ruang dan waktu yang sangat singkat. Seiring dengan semakin pesatnya perkembangan komunikasi melalui internet memunculkan pula berbagai kejahatan yang dilakukan dengan media internet. Tidak dapat dipungkiri bahwa penggunaan internet yang canggih dan cepat tersebut memunculkan pula kejahatan yang sangat canggih dan sulit untuk diketahui pelakunya. Salah satu permasalahan yang dihadapi penegak hukum untuk menjerat pelaku adalah masalah pembuktian tentang kesalahan terdakwa. Kenyataan tersebut menjadi suatu tantangan bagi kalangan hukum yang harus diterima untuk menyelesaikan segala persoalan yang terjadi akibat perkembangan teknologi yang sangat pesat.

Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dan yuridis empiris yang menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui studi lapangan. Data sekunder diperoleh melalui studi pustaka. Analisa data dilakukan dengan cara analisis kualitatif.

Hasil penelitian digunakan untuk menjelaskan bahwa,fungsi keterangan ahli telematika sebagai alat bukti pada kejahatan mayantara (cyber crime) dalam proses peradilan pidana diperlukan mulai dari proses pemeriksaan perkara, baik pada tahap pemeriksaan penyidikan maupun pada pemeriksaan disidang pengadilan sangat penting dan dibutuhkan, terutama untuk membantu penyidik, penuntut umum ataupun hakim dalam mengungkapkan suatu kasus kejahatan mayantara (cyber crime) yang sangat rumit, kompleks yang bersifat spesifik. Bantuan ahli sudah dibutuhkan sejak awal pemeriksaan penyidikan oleh penyidik, penuntut umum maupun hakim pada saat pemeriksaan perkara disidang pegadilan. Keterangan ahli merupakan alat bukti yang sah menurut undang-undang. Keterangan ahli sebagai alat bukti pada umumnya tidak menyangkut pokok perkara pidana yang sedang diperiksa, karena sifatnya lebih ditujukan untuk menjelaskan suatu hal atau keadaan berdasarkan keahlian yang dimilikinya. Prosedur pembuktian tindak pidana cyber crime dilakukan melalui sistem peradilan pidana, ketentuan hukum pembuktian yang dipakai tetap mengacu pada Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Tindak pidana cyber crime yang menggunakan sarana internet sulit sekali dilakukan pembuktian atau mengumpulkan bukti-bukti untuk menjerat pelaku, baik pelaku penyedia sarana internet maupun pelaku sendiri, dikarenakan kejahatan ini merupakan tindak pidana dunia maya (cyber crime), dimana data-data jaringan internet atau komputer sulit untuk ditembus oleh aparat penegak hukum, sehingga aparat kesulitan dalam mengumpulkan bukti bukti untuk menjerat pelaku tindak pidana. Selain itu juga tidak adanya atau keterbatasan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang tindak pidana dengan menggunakan sarana internet (cyber crime), sehingga aparat penegak hukum melakukan penghentian penyidikan terhadap tindak pidana tersebut. Faktor yang menjadi penghambat pelaksanaan pembuktian tindak pidana mayantara (cyber crime) pada sistem peradilan pidana dapat berupa tidak adanya peraturan pelaksana terhadap undang-undang informasi dan transaksi elektronik, rendahnya tingkat sumber daya manusia pada tingkat penyidikan serta pengetahuan aparat tentang tindak pidana mayantara, serta informasi dan transaksi elektronik, sehingga pelaksanaan tugas tidak dapat dilaksanakan secara optimal. Sarana dan prasarana yang dimiliki oleh aparat penegak hukum untuk membuktikan kesalahan terdakwa pada tindak pidana mayantara kurang memadai. Tidak adanya koordinasi antara aparat penegak hukum seperti penyidik polisi dan kejaksaan dalam melakukan pembuktian tindak pidana mayantara.

Disarankan Hendaknya aparat penegak hukum lebih memanfaatkan fungsi keterangan ahli telematika dalam menangani masalah tindak pidana yang berkaitan dengan tindak pidana mayantara, hendaknya penegak hukum dalam melakukan proses pembuktian pada peradilan pidana harus lebih bekerja keras dalam mengungkap suatu peristiwa pidana dengan melakukan interpretasi/penafsiran serta menggali nilai-nilai yang tumbuh dalam masyarakat, sehingga tidak hanya terbatas pada ketentuan hukum pidana tertulis saja, hendaknya sumber daya manusia terutama aparat penegak hukum perlu ditingkatkan sehingga dapat menyelesaikan segala permasalahan khususnya yang berhubungan dengan kejahatan dunia maya (Cyber Crime). http://skripsi.unila.ac.id/2009/09/08/analisis-fungsi-keterangan-ahli-telematika-sebagai-alat-bukti-dalam-proses-peradilan-pidana/

 

Contoh kejahatan dalam bidang telematika

Biasanya sesuatu hal yang sudah berhubungan dengan Komputer dan Informasi sering disalah gunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Seperti contoh gambar di bawah ini:
contoh tl

dalam bidang telematika foto di atas bisa di telusuri bukti kebenarannya seperti misalnya :

  • Apakah laki-laki tersebut benar-benar memakai baju denga model seperti itu?? Jika tidak,,ini bisa di namakan dengan kejahatan telematika
  • Apakah laki- laki tersebut benar-benar menggunakan foto itu?? dll

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: